Spes Cordis 2017: Penglihatan Untuk Menoreh

Home / Articles / Spes Cordis 2017: Penglihatan Untuk Menoreh

Spes Cordis 2017: Penglihatan Untuk Menoreh

Pada tanggal 8 sampai 10 Juli 2017, saya merasa mendapat kehormatan bersama komunitas Domus Cordis untuk membantu masyarakat di Perbukitan Menoreh dengan mengadakan kegiatan pemeriksaan mata gratis. Untuk negara-negara maju seperti di Australia, di mana saya tinggal saat ini, layanan pemeliharaan mata tidaklah menjadi masalah, dan bahkan tersedia gratis. Perjalanan saya ke Menoreh tidak hanya membuka mata saya akan betapa diberkatinya diri ini, tetapi juga memberikan kesempatan bagi saya untuk berbagi berkat dengan orang lain.

Saya lahir di Jakarta, lalu pindah ke Sydney pada usia 9 tahun. Saya aktif di Gereja sejak berusia 13 tahun, menyanyi dan memimpin pujian dan penyembahan. Tahun 2016, Domus Cordis Sydney lahir dan saya menjadi anggota reguler. Sebagai optometri, dengan tugas keseharian memeriksa mata orang-orang, saya selalu punya keinginan untuk membuat perbedaan melalui pekerjaan yang saya lakukan, tapi saya tidak mengerti bagaimana caranya. Hingga satu kesempatan terbuka bagi saya untuk pergi ke Menoreh. Keputusan untuk pergi ke sana banyak diwarnai pertimbangan. Keraguan apakah saya bisa tahu bagaimana caranya mengkoordinasikan logistik untuk pemeriksaan mata, dan bagaiman mengumpulkan dana untuk membeli kacamata. Saya bertanya-tanya apakah saya benar-benar perlu untuk ke sana dan keluar dari comfort zone di Sydney. Apalagi mengingat saya belum tahu bagaimana akomodasi dan kondisi di Menoreh.

Di Menoreh, kami melakukan pemeriksaan di beberapa desa di Perbukitan Menoreh: Kerug, Gorolangu, Kalirejo, Samigaluh dan Promasan. Saya kagum bagaimana orang-orang berjalan kaki pada suhu 30 s.d. 40 derajat hanya untuk bertemu dengan kami. Beberapa orang tua bahkan berjalan kaki tanpa alas dari rumah mungil mereka dengan membawa bawaan di punggung seberat 20 kg. Saat tiba pertama kali, saya menyadari bahwa 80-90% dari masyarakat berusia lebih dari 50 tahun. Padahal saat ini banyak orang berusia lebih dari 45 tahun sudah memerlukan kacamata baca. Masyarakat di sini selalu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk datang ke gereja.

Dengan beberapa teman dari komunitas Domus Cordis Indonesia, kami melakukan tes kepada ratusan warga dan mendapati ada 157 orang yang memerlukan kacamata. Hanya sekitar 15 orang dari mereka yang mempunyai kacamata, sebagian lagi kacamatanya rusak atau sudah terlalu tua ataupun sudah tidak dapat digunakan lagi. Sekitar satu dari lima orang yang kami periksa menderita katarak. Mereka bahkan tidak mengetahui hal itu, atau pun tidak punya dana untuk membiayai operasi. Semua orang sangat berterima kasih atas pelayanan yang kami sediakan.

Pada akhirnya, kami berhasil mendapatkan Rp. 20.000.000 untuk dana pembelian kacamata, tapi yang terpenting adalah membantu penglihatan mereka yang tidak bisa baca Alkitab karena penglihatan yang buruk. Saya merasa Tuhan memberitahukan satu hal penting, bahwa saya hanya perlu menjawab YA pada panggilanNya untuk menggunakan diri saya serta karunia yang telah diberikan untuk memberkati orang lain. Nyatakan keinginan hatimu untuk menolong orang-orang pada Tuhan, dan Dia akan memberikan kesempatan, dana dan segala alat-alat untuk melakukannya. Tidak perlu menjadi orang terkaya, terpintar, terkudus dan terbaik untuk melakukan semua itu sebelum Tuhan memakai kita menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan menggunakan Musa yang tidak bisa bicara secara baik, Paulus yang seorang pembunuh, Maria seorang gadis muda yang rendah hati, dan masih banyak lagi orang-orang yang membawa perbedaan di dunia ini.

Jadi, saya mengajak teman-teman untuk turut serta memberkati sesama melalui talenta, pengetahuan dan karunia yang sudah Tuhan berikan pada kita semua.

Claresta Soesanto

 

 

Recommended Posts
DomusCordis Rekoleksi_orang_tua_2017