Becoming a Cordisian

Home / Join / Becoming a Cordisian
Don’t be afraid to become saints!

(St. John Paul II)

Becoming a Cordisian

Pendaftaran untuk bergabung di Komunitas Domus Cordis dibuka setiap akhir Oktober dan ditutup di akhir Januari tahun berikutnya. Namun apa artinya bergabung di komunitas ini?

Bergabung dengan Domus Cordis atau menjadi seorang cordisian, artinya mau belajar dibentuk menjadi murid Yesus yang sejati seperti para rasul, yang berani dituntun Roh Kudus untuk bergerak mengubah dunia di dalam Kristus – one person at a time, starting with me.

Menjadi cordisian berarti membiarkan dirinya dipakai Allah untuk membawa perubahan, dengan membawa semua yang ada di dunia ini ke dalam kasih dan kebenaran Kristus. Atau dengan kata lain, seorang cordisian dipanggil untuk membagikan Yesus kepada dunia. Kita tidak bisa memberi apa yang kita tidak punya. Maka, pertama-tama seorang cordisian perlu dipenuhi dengan Yesus – kasihNya, kebenaranNya, cara pandangNya, cara hidupNya, sehingga seluruh keberadaan cordisian menjadi pancaran Yesus yang hidup bagi sesama.

Proses dipenuhi Yesus ini adalah perjalanan formasi rohani yang intensif, dengan segala tanggungjawab dan konsekuensi yang menyertainya. Ini termasuk setia menjalani proses pembebasan hati dari segala belenggu ataupun kecenderungan-kecenderungan dosa, perjalanan mengenali dorongan Roh Kudus, serta perjuangan membela dan mewartakan kebenaran. Sangat mungkin ini melibatkan keputusan besar yang bertumpu pada iman akan panggilan Allah untuk keluar dari comfort zone dan bergerak into the unknown!

Sehari-hari, menjadi seorang cordisian berarti mau dibentuk untuk lebih teguh dalam mencintai. Misalnya, walaupun jalanan macet luar biasa, seorang cordisian tetap diharapkan hadir di pertemuan kelompok sel yang menjadi salah satu komitmen komunitas. Karena cinta itu selalu memberi, maka kehadiran di sel pertama-tama bukan tentang what I can get, tapi justru kehadiranku adalah my gift for my fellow cordisians. Ketidakhadiran karena malas jelas menjadi sebuah kegagalan dalam mencintai.

Contoh lain lagi, di tengah kesibukan pekerjaan sehari-hari, seorang cordisian tetap diundang untuk terlibat dalam kerasulan tertentu. Karena stewardship adalah salah satu cor values DC, maka seorang cordisian percaya bahwa kekayaannya seperti waktu, talenta, dana, dsb. sesungguhnya adalah milik Tuhan yang perlu dikelola bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk perluasan Kerajaan Allah. Ini berarti di samping studi/kerja sehari-hari, ada kerasulan yang perlu ia jalani dengan setia. Challenging? Jelas. Menjadi seorang cordisian memang berarti mau hidup dengan semangat para rasul, maka bersama saudara/i se-komunitas, ia bersukacita dan bekerja keras hidup merasul demi Kerajaan Allah!

Menjadi seorang cordisian juga berarti masuk ke dalam hidup persaudaraan dengan sesama cordisian lainnya. Ia diundang untuk hidup berbagi mimpi, berbagi tawa, berbagi semangat, singkatnya berbagi hati dan hidup dengan sesama. Konflik, pertentangan, dan beda pendapat itu biasa. Seorang prajurit bisa saja tidak cocok dengan prajurit lainnya, tapi dalam sebuah pertempuran, mereka tetap saling melindungi dan saling mendukung karena punya misi yang diperjuangan bersama. Kembali ke tenda markas, mereka tetap minum dan tertawa bersama, karena walaupun tahu saling berbeda pendapat, mereka sadar bahwa mereka share the same mission and serve the same commander. Dalam konteks kita, we share the same mission – inspire young people to change the world in Christ, dan we serve the same commander – namanya Yesus. Semangat persaudaraan sejati selalu menghargai perbedaan dengan tetap mencintai satu sama lain lewat perkataan dan perbuatan yang membangun di dalam Tuhan.

Akhirnya, selain semangat sanctification dan evangelization, menjadi cordisian juga berarti menanggapi panggilan Tuhan untuk sebuah tujuan dan gaya hidup tertentu. Gaya hidup cordisian mau menanggapi dorongan Roh Kudus di dalam hati kita secara sungguh-sungguh. Maka berbagai komitmen, program formasi rohani dan kerasulan, dibangun untuk semakin membuat hati ini peka akan tuntunanNya. Panggilan ini adalah sebuah misi penting untuk menciptakan perbedaan yang berarti di tengah-tengah dunia orang muda; bukan sekadar perbedaan menggunakan gadget tertentu atau perbedaan tujuan liburan; tapi perbedaan yang menyangkut seluruh haluan hidup generasi ini. Ini mencakup perubahan tujuan hidup setiap orang muda, bagaimana menjalaninya di dunia ini, dan ultimately di mana mereka akan menghabiskan kekekalan mereka (di smoking or non-smoking area?). Maka panggilan menjadi seorang cordisian adalah panggilan untuk menjalani suatu gaya hidup iman tertentu, yang dengan daya kekuatan Roh Kudus bisa membawa dampak kekal bagi banyak orang lain yang ia layani.

Ingin mengenal lebih jauh atau bergabung? Do not hesitate to contact us.

O my God, teach me to be generous
to serve you as you deserve to be served
to give without counting the cost
to fight without fear of being wounded
to work without seeking rest
and to spend myself without expecting any reward
but the knowledge that I am doing your holy will.
Amen

(St. Ignatius of Loyola)