Men’s Fellowship
April 5th, 201119-20 Maret 2011, West Java
Kegiatan arung jeram dan tracking ini bertujuan untuk mengenali spiritualitas lelaki lewat perjuangan dan petualangan bersama. Satu malam perjalanan ini juga membuahkan band of brothers di antara para cowok Cordisian, melalui serangkaian kegiatan outdoor yang dirancang sedemikian rupa, sehingga mereka semakin mengenal dan akrab satu sama lain, serta menghayati arti panggilan mereka sebagai lelaki.
Hari pertama diisi dengan kegiatan rafting di sungai Citatih dari pagi hingga siang hari. Rombongan yang terdiri dari 16 cowok Cordisian ini dibagi dalam tiga perahu, yang saling berlomba mencapai finish. Selesai foto-foto dan mandi, mereka menuju Sukabumi untuk mengikuti Misa sore di Gereja St. Yoseph.
Petualangan hari itu dilanjutkan dengan perjalanan menuju Sentul melalui jalur Sukabumi–Cianjur–Cipanas–Puncak. Sampai di penginapan di daerah Sentul malam hari dalam keadaan lelah dan berkeringat tidak memadamkan semangat mereka untuk melanjutkan perjalanan panjang keesokan harinya.
Malam itu, mereka diberikan misi untuk bertemu di air terjun Bojong Koneng pada keesokan harinya pukul 6 pagi, tanpa petunjuk arah yang jelas. Artinya, saat subuh sebelum matahari terbit, dalam keadaan gelap gulita mereka sudah harus mulai bergerak menjelajahi hutan, lembah, dan sungai.
Pagi hari, mereka dibagi menjadi dua kelompok yaitu jalur sungai dan jalur lembah. Saat udara masih lembab dan matahari belum tampak sama sekali, ke-16 lelaki ini telah menerobos masuk kedalam gelapnya hutan dan terjalnya lembah. Dengan berbekal doa dan persaudaraan di antara mereka, para lelaki ini menanggapi tantangan untuk menemukan air terjun yang dimaksud. Bebatuan yang besar, tajam, dan licin, menjadi medan yang harus ditempuh bagi kelompok yang menyusuri sungai. Sementara kelompok lembah harus berjuang bahu membahu menuruni hutan yang terjal, sambil menerobos gelapnya subuh. Meskipun kelompok ini sempat tersesat, namun mereka tetap berjuang dan bersama-sama meneruskan perjalanan sampai ke air terjun yang dituju. Akhirnya, sekitar dua–tiga jam kemudian, ada belasan lelaki setengah telanjang yang bermain- main di bawah air terjun sambil berfoto-foto. Dingin? Pastinya, tapi tidak ada satupun yang mengeluh. Namanya juga cowok…
Setelah kembali dan rame-rame makan sate kambing, petualangan seru ini ditutup dengan sesi tentang spiritualitas lelaki. Riko Ariefano, yang membawakan sesi ini, mengajak semua peserta untuk memperhatikan gerakan hati yang terjadi selama perjalanan ini. Harapan pantang menyerah, semangat kompetisi, dan adrenaline rush yang bergerak bisa menunjuk para karakter Allah yang mau diungkapkan lewat pribadi lelaki — karena Allah yang kita kenal bukan hanya Allah yang memiliki karakter penyayang dan pemurah, tapi juga Allah yang maha kuasa, pahlawan yang gagah perkasa, kota benteng, serta gunung batu yang kuat. Yesus bukan hanya dikenal sebagai Anak Domba, tapi juga Singa dari Yehuda.
Lewat petualangan 2 hari ini, para lelaki belajar bahwa mereka diciptakan segambar dengan rupa Allah, dan secara istimewa dipanggil untuk menampakkan kekuatan-Nya dalam memperjuangkan kebenaran, kebijaksanaan, dan kerajaanNya di dunia ini. Gimanapun juga, iman kekristenan kita terpusat pada pribadi Yesus.
















No Response to Men’s Fellowship
Still quiet here.