Testimonial
January 15th, 2012SHARING from Alfonsus Agus
“Harus saya akui, perjalanan awal saya di DC adalah perjalanan yang berbeda dari kebanyakan teman-teman yang lain. Riko selalu bilang, biasanya orang bergabung dengan komunitas melewati 3 tahapan: Pertama, komunitas yang baru dimasukinya tampak ideal dan menyenangkan. Lama-kelamaan memasuki tahap kedua, berada dalam komunitas menyebalkan, mengesalkan, menyakitkan. Jika mampu bertahan melewati tahap kedua itu, artinya tidak drop-out ditengah-tengah, barulah mencapai tahap ketiga. Badai menjadi tenang, bisa melihat kekurangan dan kelebihan diri sendiri dalam komunitas secara obyektif dan menerimanya apa adanya. No one is perfect.
Menariknya, pada masa Orientasi, hampir seluruh tahun itu diisi dengan pergulatan, kemarahan, mood jelek yang -lebih sering daripada tidak- saya lampiaskan dalam pertemuan sel. Sedikit latar belakang, masa-masa itu saya sedang bergulat sendiri dengan hidup rohani yang sedang berantakan. Juga pada saat itu saya menaruh harapan besar terhadap DC untuk menolong seorang sahabat yang mengalami masalah dalam hidup pribadinya, berhubungan dengan wanita. Saya menaruh harapan besar DC dapat menolong sahabat saya, yang mulai mencari Tuhan dan Gereja kembali lewat perjumpaan dengan Teologi Tubuh dari mendiang Paus Yohanes Paulus II. Sementara bergulat dengan hidup rohani yang berantakan, teman saya kemudian drop-out dari DC, dengan alasan bahwa DC tidak sungguh-sungguh menerima orang baru. Ia merasa dicuekin, tidak diperhatikan, ditinggal sendirian sementara teman-teman DC yang lebih senior pergi sendiri tanpa menyadari bahwa ia ada ditengah-tengah mereka. Merasa diacuhkan, ia memutuskan tidak akan pernah berurusan dengan DC lagi.
Bagi saya, ini menjadi tamparan keras dan menambah kekecewaan yg saya alami. Saya merasa bertanggungjawab. Mungkin kalau saya lebih menyediakan diri untuk menemani hasilnya tidak seperti ini? Saya menyalahkan diri sendiri, dan harus diakui sampai hari ini belum seutuhnya lepas dari hati saya.
Dalam keadaan demikian, sikap menyebalkan saya benar-benar semakin menjadi-jadi. Dalam pertemuan sel, sikap “menentang” selalu menjadi ciri khas kehadiran saya. Mungkin ada yang berpikir, kenapa masih repot-repot datang ke pertemuan sel jika demikian? Di sinilah misteri hati manusia, setidaknya hati saya sendiri, menjadi nyata. Kata orang, “benci tetapi rindu.” Saya merasa tertarik dengan visi misi maupun formasi yang ditawarkan, sesuatu yang saya cari dan menjawab kerinduan saya. Di satu sisi, sulit bagi saya untuk berdamai dengan diri saya sendiri ataupun situasi yang saya hadapi. Semakin saya sadar formasi yang disampaikan saya perlukan dan butuhkan, semakin saya menolak dan memberontak. Saya tidak pernah sampai hati tidak datang sel. Tetapi lebih sering saya tinggal di luar dan tidak mau bergabung atau sengaja datang terlambat dan pulang cepat.
Mempercepat kisah yang panjang, sedikit demi sedikit saya belajar berdamai dengan komunitas, diri saya sendiri dan situasi di sekitar saya. Di penghujung tahun, saya memutuskan untuk berkomitmen tetap dalam DC. Masih butuh waktu lagi, bahkan setelah memutuskan bergabung dengan DC untuk bisa melepas beban dan keluar dari sikap menyebalkan yang saya tunjukkan. Adalah suatu keheranan dari sisi saya bahwa total kehadiran saya ternyata dianggap mencukupi untuk bisa lanjut ke tahun konfirmasi. Padahal saya sudah berharap bahwa saya “tinggal kelas,” dan bisa menjadi alasan untuk menjauh dari DC dan melanjutkan kehancuran hidup rohani yang saya alami.
Kenyataan bahwa saya masih terus bersama DC mungkin bisa dilihat sebagai rahmat Allah yang bekerja. Bahwa akhirnya saya memutuskan mengikuti formasi dalam DC, bukan karena merasa cocok atau menyenangkan, tetapi justru karena merasa menyakitkan. Mungkin bukan proses yang mudah dipahami. Saya sendiripun kadang masih mempertanyakannya, karena saya akui, saya kerap melarikan diri dari semua yang menantang kenyamanan saya. Yang gak enak kok dipilih? Tetapi mungkin karena itu, ada sesuatu yang bisa dilihat bahwa saya berada di tempat yang tepat yang Tuhan sediakan.”
(Agus – Sancta Gratia)
SHARING from Fenny Yuni Andari
“Retret Destination Confirm (Destcon) adalah awal di mana saya mengetahui adanya komunitas yang namanya Domus Cordis atau biasa disingkat DC. Ikut retret pun Cuma iseng-iseng karena diajak teman. Sama sekali nggak tahu ini retret apa, siapa pembicaranya, siapa yang ngadain… pokoknya tinggal bayar dan berangkat. After retret, diajak ikut sel grup dan menjalankan tahun orientasi. Itupun hanya coba-coba dan sekadar menemani teman.
Sebenarnya di awal ikut DC, saya sering banget merasa ada di tempat yang salah. Tapi nggak tahu kenapa, saya tetap berusaha setia dan mencoba mengikuti setiap pengajaran dan komitmennya. Dan ternyata itu menjadi awal saya nyemplung di dunia pelayanan sampe saat ini bersama DC.
Suka duka berada di DC tentunya pasti ada. Mulai dari berantem gara-gara pegang event, nangis-nangis karena sebel dan nggak sabar, sakit hati, perjalanan yang cukup jauh setiap kali harus datang ke sel group (maklum, rumah saya di fatmawati, kerja di Bogor dan sel group di daerah Kelapa Gading.. hehe ), rasa malas yang pastinya sering banget datang menghantui, dll.
Tapi di balik semua itu, di DC saya banyak dibantu untk belajar berbagi dengan sesama melalui program Karya Kasih Manoreh dan pelayanan ke Atambua. Belajar sabar dengan teman ketika ada event yang membutuhkan team work, belajar mendengarkan orang lain, lebih dekat dengan Tuhan, belajar obedience dengan apa yang Tuhan mau buat kita, belajar untuk tahu lebih jauh apa mimpi dan passion saya, dan pastinya berusaha meraihnya. Belajar memberi waktu dan diri saya buat sesama walaupun harus nyetir jauh-jauh untuk datang, dan masih banyak lagi.
Pastinya, di dalam DC saya merasakan bertumbuh dalam Tuhan, mengejar mimpi dan passion saya. Lebih dekat dengan Tuhan, setidaknya lewat komitmen-komitmen buat para Cordisian. Belajar apa arti cinta buat sesama, apa arti kesabaran dan berkorban, baik itu waktu dan tenaga, karena kita mau terus belajar mencintai Tuhan dan sesama. Belajar berbagi, dan pastinya belajar juga menjadi wanita sejati di dalam Tuhan. Meskipun semua ini masih dalam proses, dan yang namanya proses pasti nggak enak, tapi saya enjoy dan bersyukur saya ada di DC sampai saat ini.”
(Fenny – Credo)















