Cell Group
January 26th, 2012Domus Cordis mengangkat sanctification dan evangelization sebagai misi dari komunitas. Oleh karena itu formation sebagai upaya untuk ‘menformat’ setiap hati Cordisian menjadi sangat penting. Melalui proses formasi diharapkan Cordisian mempunyai hati yang baru, hati yang rela dibentuk dan makin hari makin menyerupai Kristus sehingga kasih Kristus dapat terpancar melalui kesaksian dan gaya hidup sehari-hari. Buahnya adalah rekan-rekan muda dapat melihat dan mengalami Yesus melalui kehadiran Cordisian di tengah-tengah mereka.
Tidaklah mudah menciptakan rasul- rasul muda di jaman modern ini, terutama di tengah dunia yang menawarkan banyak kemudahan, kenikmatan, dan janji-janji kebahagiaan yang begitu flashy dan instant. Rahmat Tuhan yang selalu baru setiap haripun harus disambut dengan kesediaan untuk berkata ‘ya’ pada proses pembentukan melalui proses formasi ini. Komitmen pribadi sebagai ungkapan kesediaan untuk dibentuk menjadi gambaran kehausan Cordisian untuk lebih mengenal, mencintai, dan melayani Tuhan.
Komitmen akan sakramen Ekaristi dan sakramen tobat, doa minimal satu jam sehari, membaca kitab suci, pertemuan sel group setiap dua minggu sekali, kehadiran di acara gathering seluruh Cordisian and friends Flamma Cordis, serta keterlibatan dalam bidang apostolate tertentu, pada awalnya terdengar mudah. Banyak Cordisian tidak terlalu ‘ngeh’ akan apa yang akan mereka masuki saat pertama mereka bergabung dengan Domus Cordis. Namun semua belajar bahwa sampai titik tertentu komitmen bukan lagi bertumpu pada perasaan, tetapi pilihan cinta yang mau dipersembahkan terus menerus bagi Gereja dan sesama.
Setiap Kamis terdapat dua sampai tiga sel yang berjalan bersamaan dari berbagai angkatan dan tersebar di seluruh Jakarta. Seorang Cordisian yang tinggal di area Fatmawati dan bekerja di Bogor misalnya, bisa saja harus bolak-balik ke Kelapa Gading untuk hadir dalam pertemuan sel/ kerasulan, dengan kondisi lalu lintas di Jakarta yang begitu macet. Rasanya kerelaan untuk mau menjalani hal ini dengan penuh komitmen menjadi ungkapan yang jelas akan artinya mau dibentuk. Bila seseorang Cordisian sedang ada di awal karirnya dengan penghasilan fresh graduate, dan harus membantu membiayai keluarganya karena ia adalah tulang punggung keluar- ganya, dan tetap dengan rutin memberikan persembahan kasihnya di DC, maka sikap ini adalah jelas gambaran hati yang mau belajar mencintai hingga terasa sakit. Semua dinamika ini hadir sebagai bagian dari proses formasi.
Sejak tahun 2007, dengan rahmat dan kesetiaan Tuhan, Domus Cordis mengalami pertumbuhan jumlah anggota. Saat itu retret internal hanya membutuhkan sebuah master bedroom, namun tahun 2011 diperlukan sebuah gedung apartemen untuk menampung sejumlah peserta retret internal yang diadakan setahun sekali khusus untuk anggota Domus Cordis yang berkomitmen. Saat ini tercatat 91 orang dari lima angkatan yang telah bersedia memberikan dirinya di-”format” bersama dengan Cordisian lainnya di dalam komunitas Domus Cordis. Saat ini ada dari mereka yang sudah tersebar di kota atau negara lain karena tugas pekerjaan/studi/keluarga.
Bertumbuh dari 15 orang menjadi lebih dari 100 orang Cordisian and friends saat ini tidak akan terjadi kalau bukan karena Allah Sang Pemberi Cinta yang hadir di dalam diri setiap Cordisian serta memberikan rahmat dan kehendak yang kuat untuk mau dibentuk. Melalui proses formasi kehidupan rohani para Cordisian bertumbuh sedikit demi sedikit. Rasa sakit karena berbenturan dengan sesama anggota komunitas, rasa jenuh karena kadang merasa bosan dengan pengajaran, osis (otak sisa) dan tesis (tenaga sisa) saat harus meeting sampai jam dua pagi, pertanyaan yang terkadang muncul saat terluka dalam komunitas: “Heyyyy, what am I doing?”, merasa buang-buang waktu hidup susah sementara di luar sana banyak sahabat muda tampaknya lebih mudah dalam menjalani hidupnya — semua pergumulan ini ada, dan menjadikan sebuah ayat dalam kitab suci menjadi hidup: “… dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).
Di dalam kelemahan setiap Cordisian terdapat kekuatan yang dapat menyucikan hati dan hidup ini, karena rahmat Allah turut bekerja membuat semuanya menjadi baik. Proses formasi menjadi proses yang sungguh penting karena seluruh Cordisian percaya bahwa kita semua dipanggil dengan misi hidup masing-masing yang unik, dan dengan misi ini kita menyediakan diri bagi Allah untuk mewartakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat yang hidup khususnya bagi orang muda di manapun mereka berada.














