Why Young People
February 7th, 2010
“Jangan takut untuk menjadi orang kudus” (Johanes Paulus II, 1989)
“Jaman misi yang baru telah tiba, musim semi yang baru bagi Gereja” (Johanes Paulus II, 1991)
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:19-20)
Gereja adalah perwujudan kerajaan Allah di dunia ini yang perluasannya selalu bergantung pada kemurahan Hati Tuhan sendiri serta kerjasama umat yang terlibat di dalamnya. Semakin erat umat melekat pada sang Pokok Anggur (sanctification) dan semakin umat mau digerakkan Roh Allah untuk berkarya (evangelization), semakin banyak pula buah-buah yang dihasilkan bagi Gereja dan sesama.
Dewasa ini kita seringkali melihat karya-karya pelayanan Gereja kurang memiliki daya seperti yang diharapkan karena terbatasnya berbagai sarana pendukung yang ada. Ini mencakup tenaga khusus, modul spiritual formation yang praktis bagi awam, waktu, tempat, dana, dan sebagainya. Gereja sesungguhnya memiliki kekayaan iman berupa bahan-bahan katekese, kesaksian para kudus, sarana-sarana liturgis, dan sebagainya, namun semua itu perlu dikelola dan diintegrasikan ke dalam hidup umat dengan cara-cara yang lebih praktis, lebih up-to-date, dan lebih berdaya pikat agar sungguh efektif bagi pembangunan iman umat.
Kurangnya upaya mengatasi keterbatasan ini bisa berdampak besar dan jauh ke depan, khususnya bila dikaitkan dengan kerasulan bagi orang muda yang menjadi penerus Gereja di hari esok, dan bahkan di hari ini. Apakah Gereja efektif menjangkau orang muda lewat Misa Kudus, kelompok Kitab Suci, kelas-kelas katekese, atau pertemuan mudika? Apakah karya Gereja masih relevan dan dekat pada kehidupan orang muda sehari-hari? Apakah Gereja mengerti kerinduan debar hati orang muda hari ini? Tanpa mencari siapa yang salah, statistik menunjukkan bahwa keadaan orang muda seringkali berakar pada kehidupan mereka di rumah atau di keluarga mereka. Saat mereka kurang mengalami kasih Tuhan, mereka mencari pemuasan diri dan pelampiasan kekesalan pada kehidupan sex bebas, hedonisme, materialisme, dan ketergantungan narkoba. Bagi sebagian besar lainnya, relativisme dan indiferentisme telah berakar kuat dalam hati mereka, sehingga mereka kurang peduli akan apapun juga, cukup puas dengan keadaan sekedar hidup tanpa arah dan tujuan, dan akhirnya kehilangan arti hidup yang sesungguhnya. Tidak jarang keadaan ini berakibat bunuh diri.
Saat Gereja – yaitu para klerus dan kaum awam sebagai orang tua dan sahabat orang muda, kehilangan daya pikat pewartaannya, sebuah generasi bisa kehilangan pegangan hidup mereka. Nilai-nilai kasih dan pedoman-pedoman moral menjadi pudar dan bahkan hilang. Akibatnya, di beberapa negara Eropa gedung Gereja menjadi kosong dan bahkan ada yang dijual karena tidak berfungsi lagi sebagai rumah ibadah yang diminati umat, khususnya orang muda. Apabila upaya pewartaan bagi kaum muda kurang diperhatikan dan disikapi dengan cermat, bukan tidak mungkin akibat yang sama terjadi di keuskupan dan paroki kita pada tahun-tahun mendatang. Gedung Gereja yang kosong tentunya bukan hal terburuk, tapi kenyataan ini bisa jadi menunjuk pada hal yang jauh lebih penting, yaitu hilangnya sebuah generasi bagi kerajaan Allah!
Masa depan Gereja dan bahkan masa sekarang Gereja memang tergantung pada kemurahan Hati Allah, tapi tentu juga hati umat yang mau menanggapinya. Diberanikan oleh kasih Allah ini, sekelompok orang muda mencoba menanggapi situasi yang ada dengan membentuk kelompok Domus Cordis, yang artinya Rumah Hati.














