Domus Cordis is a Catholic bond, in which everyone through finding and making dreams come true, carries a mission to inspire the world with love.

 

DOMUS CORDIS

Rumah Hati

“Don’t be afraid to be saints”

(Yohanes Paulus II, WYD 1989)

May the fire of God’s love descend to fill your hearts, unite you ever more fully to the Lord and his Church, and send you forth, a new generation of apostles, to bring the world to Christ!

(Benediktus XVI, WYD 2008)

 

Kedua seruan ini menjiwai Domus Cordis (DC) untuk bekerja erat dengan Gereja lokal dalam berbagi Kabar Gembira, oleh orang muda, kepada orang muda, dengan gaya dan bahasa orang muda, bagi Gereja dan dunia. Di tengah-tengah jaman dan budaya yang berubah dengan cepatnya, Gereja perlu mencari cara-cara yang relevan dalam mewartakan kasih Allah, khususnya  kepada orang muda. Generasi muda punya gaya yang spesifik, bahasa yang khusus, cara-cara pendekatan yang khas – singkatnya mereka punya dunianya sendiri. Namun ini tentu bukan penghalang bagi kemajuan Kerajaan Allah, karena Roh Kudus terus bergerak membaharui dunia dari waktu ke waktu, bahkan lewat orang muda juga.

Apakah kotbah di Misa hari Minggu cukup efektif dalam mewartakan kasih Allah kepada orang muda? Apakah kelas katekese, pertemuan mudika, dan retret remaja masih memikat orang muda?  Apakah Gereja mengerti pergumulan dan mimpi-mimpi orang muda hari ini? Domus Cordis sebagai komunitas orang muda mau belajar hidup dalam kepenuhan kasih Allah, sambil terus mewartakan Kabar Gembira secara nyata dan relevan bagi generasi ini. Moderator Domus Cordis – Rm. Deshi Ramadhani, SJ, pernah berkata “Bergabung untuk hidup berkomunitas di DC bukanlah pertama-tama seperti bergabung dalam sebuah shelter untuk bersantai-santai dan dihibur,  tetapi lebih seperti bergabung dengan sebuah training camp, yang mana para anggotanya mau dilatih dan dibentuk untuk siap diutus sebagai rasul-rasul Gereja”. Ini senada dengan seruan Paus Benediktus XVI di atas.

DC memilih untuk mewujudkan misi ini lewat program spiritual formation berjenjang bagi kaum muda, serta pengembangan berbagai kerasulan yang disesuaikan dengan dreams dan passion orang muda yang terlibat di dalamnya. DC bermimpi untuk mengembangkan kerasulan-kerasulan yang ada ini secara professional lewat berbagai fasilitas dan tenaga penuh waktu. Oleh kemurahan Tuhan, pada akhir tahun 2010 DC meluncurkan sebuah badan pewartaan Teologi Tubuh dengan nama Theology Of the Body Insight, yang saat ini sudah menyelenggarakan kelas-kelas Teologi Tubuh secara teratur. Begitu juga di akhir tahun 2011, yang mana DC mulai merintis sebuah publishing house. Semua ini berangkat dari orang-orang muda yang berani bermimpi bagi Gereja dan sesama.

Setiap tahun DC membuka kesempatan untuk bergabung dengan komunitas ini pada akhir Oktober hingga Februari tahun berikutnya. Sebagai anggota komunitas, seorang cordisian (demikian DC menyebut para anggotanya) akan mengikuti program pembinaan rohani untuk setidaknya 6 – 7 tahun ke depan, dengan materi dasar Teologi Tubuh serta pengembangannya yang relevan dengan kehidupan dan kerasulan orang muda.

Lewat semua ini, DC berharap bisa berkontribusi bagi keuskupan di mana para cordisian merasul. Pada Gereja Lokal inilah DC tunduk, DC belajar terbuka pada gerakan Roh Kudus, dan DC memilih untuk hidup berbagi dengan Gereja, dunia, dan orang muda.

INFO SELANJUTNYA: info@domuscordis.org